MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR
“PENGARUH LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP
HUBUNGAN ANTARA ORANG TUA DAN ANAK”
Disusun Oleh :
Rachmad
Dwi Cahyo
Tegar Satria Wicaksana
Tegar Satria Wicaksana
Muhammad
Faris Herlando
Choresi
Julius
Yusuf
Ahmad Fauzan
Luthfan
Yoga M.
KELAS
1EA30
FAKULTAS
EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
Dosen
: Bpk. Normanshah Banowo
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya dan
juga kami berterima kasih pada Bpk. Normanshah Banowo selaku Dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini
belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari
rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga
makalah Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Hubungan antara Orang Tua dan
Anak ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Bekasi, 22 September 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
1.1 Latar Belakang..........................................................................
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................
1.3 Tujuan.......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN................................................................................
2.1 Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan
anak................
2.2 Pengaruh media informasi terhadap
perkembangan anak........
BAB III PENUTUP........................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................
3.2 Saran.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
perkembangan anak. Salah satunya faktor lingkungan keluarga.
Lingkungan
keluarga merupakan aspek yang pertama dan utama dalam mempengaruhi perkembangan
anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, sehingga
keluarga mempunyai peran yang banyak dalam membentuk perilaku dan kepribadian
anak serta memberi contoh nyata kepada anak. Karena di dalam keluarga, anggota
keluarga bertindak seadanya tanpa dibuat-buat.
Dari keluarga inilah baik dan buruknya perilaku dan kepribadian anak terbentuk. Walaupun ada juga faktor lain yang mempengaruhi. Orang tua merupakan contoh yang paling mendasar dalam keluarga. Apabila orang tua berperilaku kasar dalam keluarga, maka anak cenderung akan meniru. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang berperilaku baik dalam keluarga, maka anak juga cenderung akan berperilaku baik.
Selain faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat juga berpengaruh dalam perkembangan anak. Sekolah mempunyai peranan dalam mengembangkan potensi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anak, menciptakan budi pekerti yang luhur, membangun solidaritas terhadap sesama yang tinggi, serta mengembangkan keimanan dan ketakwaan anak agar menjadi manusia yang beragama dan beramal kebajikan.
Lingkungan masyarakat mempunyai peranan dalam mengembangkan perilaku dan kepribadian anak. Dalam masyarakat anak bergaul dengan teman sebayanya maupun yang lebih muda atau bahkan yang lebih tua. Dari pergaulan inilah anak akan mengetahui bagaimana orang lain berperilaku dan anak dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat serta anak dapat berpikir dan mencari penyelesaiannya.
Dari keluarga inilah baik dan buruknya perilaku dan kepribadian anak terbentuk. Walaupun ada juga faktor lain yang mempengaruhi. Orang tua merupakan contoh yang paling mendasar dalam keluarga. Apabila orang tua berperilaku kasar dalam keluarga, maka anak cenderung akan meniru. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang berperilaku baik dalam keluarga, maka anak juga cenderung akan berperilaku baik.
Selain faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat juga berpengaruh dalam perkembangan anak. Sekolah mempunyai peranan dalam mengembangkan potensi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anak, menciptakan budi pekerti yang luhur, membangun solidaritas terhadap sesama yang tinggi, serta mengembangkan keimanan dan ketakwaan anak agar menjadi manusia yang beragama dan beramal kebajikan.
Lingkungan masyarakat mempunyai peranan dalam mengembangkan perilaku dan kepribadian anak. Dalam masyarakat anak bergaul dengan teman sebayanya maupun yang lebih muda atau bahkan yang lebih tua. Dari pergaulan inilah anak akan mengetahui bagaimana orang lain berperilaku dan anak dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat serta anak dapat berpikir dan mencari penyelesaiannya.
Dalam
kehidupan masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat
penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari satu pihak ke
pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam
waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa-peristiwa,
pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya dengan mudah
diterima oleh masyarakat, sehingga media massa surat kabar, TV,film, radio,
majalah, dan lainnya mempunyai peranan penting dalam proses transformasi
nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Di samping itu, media massa
juga mentransformasikan simbol-simbol atau lambang tertentu dalam suatu konteks
emosional.
Dengan
adanya tayangan adegan kekerasan dan adegan-adegan yang menjurus ke pornografi,
ditengarai juga telah banyak berperan menyulut perilaku agresif remaja, dan menyebabkan
terjadinya pergeseran moral pergaulan, serta meningkatkan terjadinya berbagai
pelanggaran norma susila di media massa, nyaris setiap hari bisa dibaca
terjadinya kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan yang menghebohkan karena si
pelaku diilhami oleh adegan-adegan porno dan sadis yang pernah ditontonnya di
film atau di tayangan yang lain (J. Dwi Narwoko-Bagong Suyanto 2006 : 96).
1.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas muncullah masalah yang akan dibahas yakni :
1.
Bagaimana pengaruh
lingkungan terhadap perkembangan anak?
2.
Bagaimana pengaruh
media informasi terhadap perkembangan anak?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan yang
akan dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu :
1.
Mengetahui pengaruh
lingkungan terhadap perkembangan anak.
2.
Mengetahui pengaruh
media informasi terhadap perkembangan anak.
BAB II PEMBAHASAN
3.3 Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan
anak
1.
Lingkungan
Keluarga
Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan
yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran
dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian
anak.
Pandangan yang sangat menghargai posisi dan
peran keluarga sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang istimewah. Pandangan
seperti ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alasan berikut ini.
1. Keluarga lazimnya
merupakan, pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak.
Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan
memberikan layanan interaktif kepada anak.
2. Sebagian besar waktu
anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga.
3. Karakteristik hubungan
orang tua-anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya (guru,
teman, dan sebagainya ).
4. Interaksi kehidupan
orang tua-anak di rumah bersifat “asli”, seadanya dan tidak dibuat-buat.
Peran keluarga lebih banyak memberikan
pengaruh dukungan, baik dari dalam penyediaan fasilitas maupun penciptaan
suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya, dalam hal pembentukan perilaku,
sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya,
lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominant.
Di sini lingkungan keluarga dapat memberikan
pengaruh kuat dan sifatnya langsung berkenaan dengan pengembangan aspek-aspek
perilaku seperti itu, keluarga dapat berfungsi langsung sebagai lingkungan
kehidupan nyata untuk memperaktekkan aspek-aspek perilaku tersebut.
Karena itu tidaklah mengherankan kalau
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2/1989 menyatakan secara jelas
bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang
memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral, dan keterampilan.
Selanjutnya, Radin menjelaskan 6 kemungkinan
cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut
ini :
1. Permodelan perilaku
(modeling of behavior). Baik disengaja atau tidak, orang tua dengan sendirinya
akan menjadi model bagi anaknya. Imitasi bagi anak tidak hanya yang baik-baik
saja yang diterima oleh anak, tetapi sifat-sifat yang jeleknyapun akan dilihat
pula.
2. Memberikan ganjaran
dan hukuman (giving rewards and punishments). Orang tua mempengaruhi anaknya
dengan cara memberikan ganjaran terhadap perilaku-perilaku yang dilakukan oleh
anaknya dan memberikan hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya.
3. Perintah langsung
(direct instruction).
4. Menyatakan
peraturan-peraturan (stating rules).
5. Nalar (reasoning).
Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bias mempertanyakan kapasitas
anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi
anaknya.
6. Menyediakan fasilitas
atau bahan-bahan dan adegan suasana (providing materials and sttings). Orang
tua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau
bahan-bahan dan adegan suasana.
Perkembangan moral anak akan sangat
dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan keluarganya. Karenaya, keharmonisan
keluarga menjadi sesuatu hal mutlak untuk diwujudkan, misalnya suasana rumah.
Ketika keikhlasan, kejujuran dan kerjasama kerap diperlihatkan oleh
masing-masing anggota keluarga dalam hidup mereka setiap hari, maka hampir bisa
dipastikan hal yang sama juga akan dilakukan anak bersangkutan.
Sebaliknya, anak akan sangat sulit menumbuhkan
dan membiasakan berbuat dan bertingkah laku baik manakala di dalam lingkungan
keluarga (sebagai ruang sosialasi terdekat, baik fisik maupun psikis) selalu
diliputi dengan pertikaian, pertengkaran, ketidakjujuran, kekerasan, baik dalam
hubungan sesama anggota keluarga ataupun dengan lingkungan sekitar rumah.
Demikian pula status sosio – ekonomi.
Status sosio-ekonomi, dalam banyak kasus menjadi sangat dominan pengaruhnya.
Ini sekaligus menjadi latar mengapa anak-anak tersebut memutuskan terjun ke
jalanan. Namun selain faktor tersebut (ekonomi), masih ada penyebab lain yang
juga akan sangat berpengaruh mengapa anak memutuskan tindakannya itu, yakni
peranan lingkungan rumah, khususnya peranan keluarga terhadap perkembangan
nilai-nilai moral anak, dapat disingkat sebagai berikut :
1. Tingkah laku orang di
dalam (orangtua, saudara-saudara atau orang lain yang tinggal serumah) berlaku
sebagai suatu model kelakuan bagi anak melalui peniruan-peniruan yang dapat
diamatinya.
2. Melalui
pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan tidak baik, anjuran-anjuran
untuk dilakukan terus terhadap perbuatan-perbuatan yang baik misalnya melalui
pujian dan hukuman.
3. Melalui hukuman-hukuman
yang diberikan dengan tepat terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik atau
kurang wajar diperlihatkan, si anak menyadari akan kerugian-kerugian atau
penderitaan-penderitaan akibat perbuatan-perbuatannya.
1. Kualitas Hubungan Orang
Tua-Anak
Seiring dengan perubahan-perubahan yang
dialami anak usia SD, pola dan bentuk hubungan orang tua-anak mengalami
perubahan. Perilaku orang tua lazimnya semakin memberi kesempatan kepada anak
untuk berbuat secara lebih mandiri.
Pada saat anak memasuki SD, berbagai kemampuan
dan keterampilan lebih banyak lagi dikuasai oleh anak. Sekarang anak lazimnya
sudah dapat makan, buang air besar, dan berpakaian sendiri. Selain itu, ia juga
mulai menampakkan minat-minat dan acara kegiatannya sendiri yang kadang-kadang
tidak terikat lagi dengan acara orang tua.
1. Gaya Pengasuhan Orang Tua Dan
Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Anak
Gaya pengasuhan orang tua (parenting style)
adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya, dalam hal
ini banyak macam kalsifikasi yang dapat dilakukan, salah satunya adalah
sebagai berikut : otoriter, permisif, dan otoritatif.
1. Persoalan-persoalan keluarga
dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Dinamika kehidupan yang terus berkembang
membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap kehidupan keluarga. Banyaknya
tuntutan kehidupan yang menerpa keluarga serta bergesernya nilai-nilai dan
pandangan tentang fungsi dan peranan anggota keluarga menyebabkan
terjadinya berbagai perubahan mendasar tentang kehidupan keluarga.
Terlepas dari bentuk dan wujud
perubahan-perubahan yang terjadi, pergeseran-pergeseran tersebut membuat
semakin kompleksnya permasalahan-permasalahan yang dialami keluarga yang pada
gilirannya akan memberikan dampak tertentu terhadap perkembangan anak. Untuk
dapat berkembang secara sehat dan sejalan dengan nilai-nilai yang dianut
masyarakat, dengan sendirinya anak perlu melakukan penyesuaian. Permasalahan
utama keluarga yang lazim dialaminya, yakni masalah orang tua yang bekerja dan
perceraian.
2.
Lingkungan Sekolah
Sekolah telah menjadi bagian dari kehidupan
anak-anak. Mereka di sekolah bukan hanya hadir secara fisik, melainkan
mengikuti berbagai kegiatan yang telah dirancang dan diprogram sedemikian rupa.
Karena itu disamping keluarga, sekolah memiliki peran yang sangat berarti bagi
perkembangan anak.
Guru adalah orang-orang yang sudah dididik dan
dipersiapkan secara khusus dalam bidang pendidikan. Mereka menguasai sejumlah
pengetahuan dan keterampilan yang bisa menjadi stimulus bagi perkembangan
anak-anak lengkap dengan penguasaan metodologi pembelajarannya.
Dalam konteks perkembangan anak, hal tersebut
merupakan salah satu sisi keunggulan guru dari pada orang-orang dewasa lain
pada umumnya. Karenanya lazimnya pengalaman interaksi pendidikan dengan guru di
sekolah akan lebih bermakna bagi anak dari pada pengalaman interaksi dengan
sembarang orang dewasa lainnya. Dengan kata lain, interaksi pendidikan di
sekolah tidak hanya berkenaan dengan perkembangan aspek-aspek pribadi lainnya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa dilihat dari
sisi perkembangan anak, sekolah berfungsi dan bertujuan untuk memfasilitasi
proses perkembangan anak, secara menyeluruh sehingga dapat berkembang secara
optimal sesuai dengan harapan-harapan dan norma-norma yang berlaku di
masyarakat. Meskipun tampaknya di sekolah itu sangat dominan dalam perkembangan
aspek intelektual dan kognisi anak, namun sebenarnya sekolah berfungsi
dan berperan dalam mengembangkan segenap aspek perilaku termasuk perkembangan
aspek-aspek sosial moral dan emosi.
Dijelaskan oleh Bredekamp bahwa sasaran
kurikulum sekolah yang tepat itu adalah :
1. Mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan anak dalam semua bidang perkembangan fisik,
sosial, emosi dan intelektual guna membangun suatu fundasi untuk belajar
sepanjang hayat;
2. Mengembangkan harga
diri anak, rasa kompoten dan perasaan-perasaan positif terhadap belajar.
Sekolah-sekolah di Indonesia juga tidak terlepas dari fungsi dan peranannya
dalam mengembangkan keimanan dan ketakwaan anak sehingga mereka menjadi
manusia-manusia yang beragama dan beramal kebajikan.
3. Lingkungan
Masyarakat
Masyarakat tempat anak – anak hidup dan
bergaul, dengan orang dewasa yang juga memiliki peran dan pengaruh tertentu
dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, melihat
orang – orang beperilaku dan menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang
seyogjanya dipenuhi oleh yang bersangkutan.
Perkembangan anak, dari lingkungan keluarga,
sekolah, lingkungan masyarakat dapat mendukung perkembangan anak di keluarga
maupun di sekolah, begitupun sebaliknya.
2.2 Pengaruh media
informasi terhadap perkembangan anak
Masyarakat tempat
anak-anak hidup dan bergaul dengan anak-anak orang dewasa lainnya juga
merupakan lingkungan perkembangan yang memiliki peran dan pengaruh tertentu
dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, disana
mereka melihat orang-orang berprilaku, disana mereka menemukan sejumlah aturan
dan tuntunan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan.
Pengalaman-pengalaman interaksional anak pada masyarakat ini akan member
kontribusi tersendiri dalam pembentukan perilaku dan perkembangan pribadi anak.
Namun tidak selamanya
budaya-budaya baik yang dikembangkan di rumah dan di sekolah itu sejalan dengan
apa yang terjadi di masyarakat. Sementara di rumah dan di sekolah tidak pernah
diajarkan untuk mencuri, berkelahi, mengkhianati orang lain dan sebagainya.
Misalnya ; tapi di masyarakat semua hal itu terjadi. Kondisi demikian tentunya
akan menimbulkan sejumlah pertanyaan, sikap kritis, dan bahkan mungkin
kebingungan pada diri anak.
Disinilah perlunya
ikatan psikologis yang kuat antara keluarga dengan anak sehingga keluarga tetap
dipercaya sebagai tempat yang baik untuk membicarakan dan memahami berbagai
permasalahan yang terjaadi di masyarakat. Baik tidaknya suatu masyarakat akan
tergantung kepada keluarga-keluarga yang membangun masyarakat bersangkutan.
1.
Pengaruh
Negatif Media Informasi
Di era informasi ini,
peran media informasi dalam kehidupan sangat dominan. Saat ini, kita dapat
menyaksikan betapa berjamurnya TV-TV swasta, parabola, dan internet. Semua ini
dapat memberikan pengaruh negative bagi anak – anak, apabila mereka menyaksikan
tayangan TV tanpa ada pengawasan dari orang tua.
Penggunaan internet juga tidak kalah berbahaya apabila tanpa
pengawasan, karena banyaknya informasi – informasi yang tidak layak konsumsi
bagi anak-anak.
2.
Pengaruh
Positif Media Informasi
Selain pengaruh
negative, media informasi juga memberikan pengaruh positif bagi
perkembangan anak, khususnya dalam mengkondisikan anak berburu informasi dan
pengetahuan. Saat ini ada jutaan informasi yang dapat diperoleh dengan mudah
melalui internet hanya dalam hitungan detik saja.
Bahkan, kementrian
pendidikan pun telah meluncurkan Buku Sekolah Elektronik yang dapat di download
oleh semua pengguna internet. Hal ini tentunya dapat membantu siswa dalam
belajar dan mendapatkan buku tambahan selain yang digunakan di sekolah.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimuplan
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan
anak, dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan sekolah
3. Lingkungan masyarakat
Pengaruh media informasi terhadap
perkembangan anak, dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
1. Pengaruh negative
2. Pengaruh positif
3.2 Saran
Dalam perkembangan anak, sangat dipengaruhi oleh lingkungan,
baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyatrakat serta media
informasi. Oleh karena itu perhatian besar dari orang tua sangat diperlukan
untuk bekal anak- anak dalam bergaul dengan lingkungan lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
husnunnisaabbas.
(Senin, 5 Desember 2011). Pengaruh lingkungan terhadap anak. https://husnunnisaabbas.wordpress.com/2015/03/24/pengaruh-lingkungan-terhadap-perkembangan-anak/. 25 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar